Minggu, Desember 26, 2010

Aku Mencintaimu karena Allah dan Muhammad


Aku Mencintaimu karena Allah dan Muhammad

Zahra’ binti Quwaid duduk termenung. Putri bungsu dari Raja Quwaid Quwaid bin sa’ad itu tampak lesu. Sesekali zahra’ menyapukan pandangan ke sekliling taman istana, sorot bola matanya yang tajam dan menawan membuat kumbang-kumbang jantan mendekat. Hingga kumbang-kumbang itu lupa pada madu yang manis nan lezat, memang indah, kecantikan zahra’ melebihi madu yang termanis. Kelembutan dan keangunan sikapnya tak ubah seperti bidadari. Gelora cinta dan kasih sayang selalu terlihat dari setiap gerakan gemulai tanganya, serta suara lembutnya ibarat permainan musik oleh para malaikat di surga. Sungguh sebuah ciptaan yang sempurna.
Tapi tak bisa di pungkiri. Di balik kesempurnaan zahra’ sebagai putri raja, zahra’ menangis. Batinnya merintih, merindukan belaian dari pangeran yang akan membawanya kelak ,pada kedamaian dan cinta abadi. Sebenarnya zahra’ selalu berdoa setiap saat. Kala malam datang, dia berdoa dengan linangan air mata berharap pangeran itu akan segera datang. Dan kala siang telah bekunjung, zahra’ berharap seraya menunggu di taman dekat istana, berharap akan ada pangeran yang datang dan mempersuntingnya menjadi pendamping untuk selamanya. Itulah impian zahra’ sebagai gadis normal pada umumnya.
Sudah banyak yang melamar zahra’, tapi tak satupun yang berkenan di hati zahra’, mereka tak seperti pangeran yang pernah hadir dalam mimpi zahra’. Pangeran yang sederhana dengan syair-syair cinta yang mebuat dia tenang ketika di sisinya dan memiliki kesempurnaan yang tidak di miliki pangeran lain. Bahkan, zahra’ menolak lamaran seorang pangeran bernama sahid bin mas’ud dari Siria, yang terkenal dengan ketampanan, kedemarwanan dan kegagahannya. Dan pangeran itu siap melakukan apapu agar bisa bersanding dengan zahra, sekalipun harus menyerahkan istana dan semua rakyatnya untuk kerajaan zahra’. Tapi kenyataanya zahra’ tidak menginginkan itu, zahra’ hanya bisa menunggu dan terus menunggu, sampai pangeran itu akan datang, menjemputnya dengan sejuta cinta.
“ Ayo pergi, cepat,” suara prajurit istana terdengar riuh, mengganggu zahra’ yang sedang melamun memikirkan tentang pangeran yang sedang dia tunggu.
Dengan langkah anggun zahra berjalan ke asal suara yang terdengar ribut. Ternyata dua orang prajurti yang sedang mengusir pengemis.
“Sudah cukup.” Ujar zahra’ sopan. “ Ayo masuk.” Lanjut zahra’ mempersilahkan pengemis itu masuk. Pengemis itu terseyum, tapi senyum itu tertutup topi kumal yang di kenakanya. Dan zahra’ sama sekali tak menyadari, kalau pengemis tersenyum dan terus mengamatinya.
Dengan langkah sempoyongan pengemis itu mengikuti zahra’,luka dari kekerasan prajurit istana membuat pengemis itu sedikti merintih.
“Kamu tidak apa-apa?” Ujar zahra’ khawatir. Zahra’ sendiri heran , baru kali ini dia mempersilahkan seorang pengemis masuk istana.
Penemis itu hanya mengeleng pelan. Zahra’ tersenyum manis, seketika pengemis itu terpaku mengamati senyum zahra’.zahra’ kembali berjalan masuk ek dalam ruang tengah istana, dia  sama sekali tidak peduli dengan pengemis yangs sembari tadi terjebak dalam samudra cinta, tentu saja semua lelaki normal pasti akan tenggelam dalam samudra cinat zahra’, ketika setiap lelaki itu memandang mata lembut zahra’, apalagi sampai mendapat senyum dari zahra’ binti Quwaid. Ya iulah yang kini di rasakan pengemis itu, hatinya begejolak mencoba menepi dari derasnya ombak di lautan cinta zahra’, tapi dia tidak bisa, dia terus mencoba, namun sayang dia semakin tenggelam dan terus tengelam. Hingga nafasnya terasa sesak penuh dengan air laut yang terasa menyerakkan tenggorokan, dan akhirnya mati. Ya kini hati pengemisitu telah mati dan mati.
“ Silakan duduk, saya mau mengambil air dulu.” Ujar zahra’ berpamitan. Dengan gaun putih yang indah zahra’tampak semakin anggun di mata pengemis itu. Bayangan anggun zahra’pun lenyap di balik  pintu istana yang terukir megah dengan lapisan emas.
Pengemis iu tertunduk. Kemudian mendendangkan syair-syair cinta yang tumbuh dan bersemi dia dalam hatinya.

Saat kidung mulai bernyanyi
Warna di langit ikut menari
Gemuruh ombak di tepi hati
Membawa arus rinduku padamu, hai bidadari
Biarkan jiwa ini jauh
Terbang dengan sayap harapan
Akan ku ajak dikau wahai bidadariku
Pulang ke negri kita
Nirwana yang indah.

Ajarilah aku tentang cinta
Ajarilah aku tentang hidup
Ajarilah aku tentang rindu
Karena kau adalah kesejatian
Dalam hidup ini

Ku temukan kau
Saat jiwa ini merintih pilu
Kau obat penyakit hatiku
Kau madu untuk dahagaku
Kaulah telaga al kausar
Yang akan  mengusir semua dahaga
Untuk selamanya

Bersandarlah kau dalam pundakku
Dekaplah tubuh lemahku
Dan bawalah aku dalam lautanmu
Penuhi hatiku dengan kasihmu
Dan lengkapi hidupku
Dengan hadirmu
Karena kaulah bidadariku
Bidadari yang ku nanti

Bait-bait syair yang terus mengalir deras terhenti sesaat setelah zahra’ berdiri kosong menatap ke arah pengemis yang sembari tadi melamun. Zahra’ menatap lembut,pengemis itu semakin tertunduk.ingin rasanya dia kembali menatap zahra’ menyampaikan cintanya, namun dia tidak berani . dia terus menahan, namun gagal. Gejolak hatinya terus memaksa untuk menatap zahra’. Dan..
Zahra’ dan pengemis itu saling beradu pandang. Ada getar-getar aneh di antara keduanya.
“ Prang..?” segelas air putih dan sepiring buah-buahan yang di ambil zahra’ pecah berantakan. Namun keduanya terus saling memandang. Tak peduli dengan sekeliling. Dengan mudah cinta tumbuh di antara keduanya, bersemi lembut seiring mata mereka yang terus mendendangkan syair-syair cinta.
“ Astagfirrullahal adzim, ya Allah ampuni hamba yang telah termakan nafsu.” Ujar pengemis itu lirih seraya memalingkan pandangannya dari mata zahra’. Spontan zahra’ pun tersadar dari kesalahanya.
“Maafkan aku.’ Ujar zahra’.
“tak pantas jika tuan putri meminta maaf, minta maaflah pada Allah. Karena sesunguhnya perbuatan barusn telah membuat Allah marah.membuat Allah cemburu, karena DIA-lah kekasih sejati kita.” balas pengemis itu dengan bijaksana. Mendengar suara dari sang pengemis yang tenang dan tulus, benih cinta yang sempat tersebar di ladang hati zahra’, semakin tumbuh dan tumbuh.
“ tuan putri .sebelum hamba pergi dari istana ini, atau bahkan dari kehidupan tuan putri. bolehkan hamba mendendangkan syair hamba untuk tuan putri.”
“boleh silahkan. Tapi maaf airnya tumpah, apa perlu aku ambilkan lagi.” Ujar zahra’ seraya melangkah. Gaun putihnya sedikit basah terkena aliran air dari gelas yang barusan jatuh.
“ tidak usha tuan putri, memangdangmu telah menghilangkan lapar dan dahagaku” ujar pengemis itu. Zahra’ tersenyum, tersipu malu.
”  Baiklah silahkan.” Zahra’ sudah tidk sabar.
Zahra’ duduk tenang di kursi. Seraya mengamati pengemis yang tiba-tiba berdiri. Membuka topi kumuhnya. Wajah muda menyembul dari balik topi itu, tapi sayang wajah itu kotor dan tidak terawat.
Putriku
Putri istana
putri dari raja yang adil
Lagi bijaksana
Izinkan hamba menepi dari danau ini
Menatap cinta hamba untukmu
Wahai putriku

Tapi
Apakah kiranya hamba layak
Mencintai seorang putri
Yang anggun bak seorang bidadari

Hamba miskin dan terhina
Hamba tak ubah seperti seorang budak
Dan andai bisa
Akan kulamar kau
Atau nama tuhanku Allah
Dan atas nama nabiku Muhammad

Pengemis itu berenti mendendangkan syair-syair lembut seraya kembali mengenakan topi kumuhnya hingga  matanya yang bercahaya tidak terlihat. Zahra’ masih diam. Zahra’  yang terus terhanyut dalam bait demi bait syair ,sama sekali tak menyadari kepergian dari pengemis itu. Hatinya masih tersenyum bahagia. Penuh dengan benih-benih cinta yang kini mulai tumbuh menjadi bunga cinta yang indah.
Zahra’ terus terhanyut dan lupa akan hidupnya. Di bayanganya hanya tentang pangeran, ya pangeran yang datang padanya sebagai sosok pengemis.

****
Seminggu setelah pertemuan zahra’ dengan pengemis itu. Hati zahra’ terus di selimuti rindu. dan kerinduan itulah yang kini membuatnya tergeletak tak berdaya. Tubuhnya terasa engan untuk bergerak, semua terasa hampa tanpa hadirya pangeranya itu.
“ Putriku. Ada apa dengan dirimu, hingga kau jatuh sakit seperti ini. Ayah handa heran, baru pertama kali ini ayahnda melihat putri sakit. Keceriaan yang biasa kau beri pada ayahanda sudah hilang, ayah rindu keceriaan itu” Raja Quwaid bin abdulah khawatir dengan keadaan putri bungsunya.
Zahra’ hanya diam. Dan diam .sudah hampir seminggu dia berdiam diri, engan bicara dengan siapapun, termasuk kepada ayahnya sendiri.
“ Putriku, tolong,ini permintaan terakhir ayah. Jawablah pertanyaan ayah. Ayah tak sanggup hidup andai kamu terus begini.” Raja Quwaid semakin kahwatir. Berbagai cara telah dia lakukan agar putrinya sembuh,namun selalu gagal dan gagal. Kini raja Quwaid hanya bisa pasrah dan berserah pada yang di atas.
Zahra’ tersenyum. Raja Quwaid sedikit bahagia melihat senyum Zahra’, ada harapan kecil yang tersemat  dalam hati raja Quwaid.
“ Ayahnada, raja yang mulia.” Ujar zahra’ terbata-bata. Suaranya terdengar sedikit serak.
“ Iya putriku. “
“ ayahanda, pantaskah kiranya jika  ananda menjadi seorang putri kerajaan jika ananda hanya menjadi seorang putri yang menyusahkan ayahada. Pantaskah ananda di sebut seorang putrid, jikalau esok ananda akan menjadi rakyat biasa.?”
‘ Apa maksud ananda?” raja Quwaid kelihatan bingung mendengar kata-kata putirnya, zahra’.
“ Maafkan ananda yang telah melabuhkan hati ananda pada seorang pengemis dari timur.”  Ujar zahra’ seray mengulurkan selembar kertas kepada ayahnya, raja Quwaid.
Raja Quwaid mengambil kertas itu. Sebuah bair syair sederhana.
Andai aku bisa merakit dan membawamu
Kan ku bawa kau atas nama tuahnku, Allah.
Dan akan ku bawa kau dengan nama rasulku, Muhammad
Harist bin ahmad
Usai membaca bait kata itu. Raja Quwaid mengangguk pelan, paham akan apa yang di alami putri bungsunya. Seketika raja Quwaid langsung memanggil prajurit istana dan menyuruh untuk segera mencari nama yang tertera di lembaran kerats itu. Harist bin ahmad.
****
‘ He tunggu, kenap kalian prajurit-pajurit istana menemui rakyat seprti kami, apa perlu kalian.?” Tanya pedagang yang kini sendag berdiri di pinggiran jalan.
“ Kami sedang mencari Harist bin ahmad,’ apa kalian mengetahui. Ujar salah satu prajurit memberi penjelasan.
“ oh Harist si pengemis dermawan, dia di ujung jembatan sana, sudah seminggu ini dia berhenti mengemis, tiap hari dia mendendangkan lagu-lagu aneh atau apakah itu, aku merasa dia sudah tidak waras.” Balas pedagang itu.
“ Ya udah, sukran kasir.assalamualikum” Ujar prajurit istana seraya berpamitan.dengan tegap rombongan prajurit itupun berjalan menuju sungai al kalam. Yang letaknya tidak jauh dari arah mereka berjalan sekarang.
Tampak Harist sedang duduk di pinggiran jembatan. Syair-syair aneh terus meluncur deras dari lidahnya yang sudah terkena racun cinta.
“ Assalamualikum.’ Ujar salah satu prajurit.
Harist menoleh sendangkan mulutnya masih terus mendendangkan syair-syair aneh. Harist tampak acuh dengan kendatangan rombongan prajurit istana, dia kembali terhanyut mendendangkan syair untuk senja yang mulai merayap di ujung sana, bayang Zahra’ yang selalu tepantul lewat senja itu membuatnya semakin betah untuk menghabiskan waktunya di jembatan sungai.
“ Apa benar anda tuan Harist, raja Quwaid mencari tuan. Tolong ikut kami.”
Mendengar nama dari raja Quwaid, yang merupakan raja yang adil dan bijaksna. Harist tak bsia menolak, akhirnya dia turun dari jembatan dan sgera berjalan ke arah rombongan prajurit.
“ Mari.’ Harist bersama prajurti itu segera berjalan kembali ke istana.
****
Malam setelah tiba, inilah malam pertama Harist di istana. Dengan pakaian indah yang baru saja di berikan pelayan istana. Entah ada apa di balik semua ini. Akal Harist tak habis fikir dengan apa yang telah di alami hari ini. Namun tetap saja, rasa rindu Harist terhadap zahra’ tetap tumbuh, apalagi kini dia berada di dalam istana, tempat pertama kalinya dia bertemu dengan putrid yang kini singgah di istana hatinya.
Tapi seketika lamunan Harist buyar dengan kedatngan raja Quwaid.
‘ Hai anak muda. Bolehkah saya, sebagai raja yang agung memohon satu permintaan padamu?” ujar raja lembut.  semua ahli keluarga kerajaan yang berkumpul di ruang tengah istana menjadi saksi permohonan raja.
“ Tuan raja yang mulia, tak pantas kiranya tuan yang mulia memohon permintaan pada hamba. memohonlah pada Allah niscaya Allah pasti akan mengabulkan, dan jika permohonan itu ada kaitanya dengan hamba, insyaAllah hamba siap.” Balas Harist bijaksana.
“Baiklah saya salah, saya akan memohon kepada Allah, agar kamu, Harist menikahi putri saya zahra’ malam ini dan detik ini, di saksiakan semua anggota keluarga istana dan juga para prajurit istana “
Mendengar kata-kata raja quwiad barusan, jantung Harist serasa tersusuk panah dari jutaan pemanah tentara islam kala perang. Harist diam tertunduk. Apakah ini mimpi. Ya dia masih tidak percaya dengan apa yang dia alami malam ini, semua memperhatikan Harist. Berharap cemas akan keputusan Harist yang merupakan masa depan putri.
“ Tuanku yang mulia,pantaskah hamba yang seorang pengemis menjadi penyanding untuk putri yang agung, bukankah masih banyak pangeran-pangeran kaya yang tentunya lebih pantas menjadi pendamping tuan putri.” Harist merendah.’ Lalu dengan apakah hamba harus melamar taun putri, andai hamba memang pantas.” Lanjut Harist.
“ dengan ini.” Raja Quwaid mengulurkan selembar kertas yang kemarin lusa dia tinggalkan di samping zahra’. Harist semakin kalut, rasa tak percaya semakin menghantuinya.
“ putriku zahra’ kemarilah.”
Zahra’ muncul dengan gaun putih yang indah, wajah ayunya tampak semakin semerbak. Wajah yang selalu di liputi rindu dan cinta.
“ Ayo putraku Harist, sekarang saatnya kalian bersatu.” Uar raja Quwaid. harst tak percaya malam ini dia akan menjadi salah satu keluarga dari kerajaan.
“ putrid yang ku cintai,malam ini juga, saya Harist bin ahmad, melamar tuan putri atas nama tuhanku Allah dan atas nama nabiku muhammad “.
Harist malantunkan shahadat dan shalawat sebenyak tiga kali. Sausana haru memenuhi istana.
Harist tersenyum tipis, kebahagian yang kini dia rasakan tidak dapat tergambarkan. Dia hanya bisa berdoa semua ini akan selalu abadi dalam lindungan-NYA.

Ardian el borney (Mr.imagine) email : Ians2210@yahoo.co.id/Blog :wwwsantripenulis.blogspot.com.
Untuk cinta yang indah.
Indah memang jika cinta di dasarkan atas nama Allah. Cinta yang tulus dan tak akan tergantikan oleh waktu.
Reaksi:

0 komentar: