Kamis, Desember 23, 2010

sepasang merpati dari surga

Sepasang merpati dari surga 
Malam yang semakin larut, tidak juga mengantarku menuju alam mimpi. Suasana hatiku tengah kacau. Berbagai masalah berputar-putar dan melebur di benakku.
“ ya allah tolong hamba.” Gumamku lirih. Suara hewan masih mendengung di sekitar rumah. Bayangan tentang masa lalu membuat aku terbius dengan rasa yang tak aku mengerti. Berkali-kali aku mencoba menenangkan diri dengan berbagai aktifitas lain. Tapi tidak bisa, aku masih tetap bimbang. Ada sesuatu yang menggerogoti tubuh dan jiwaku
****
Aku terdiam di ujung lorong gelap. Tak ada secercah cahaya yang bisa menuntunku menuju jalan keluar. Aku hanya bisa pasrah, memohon pertolongan dari yang di atas. Aku menarik nafas panjang seraya terus berdoa, mencoba menenangkan hatiku yang gelisah.
Suasana sepi yang sembari tadi menghantuiku, bgranti dengan suara burung yang berterbangan. Aku tak tahu dari mana asal suarau itu, di depan, belakang, atas atau hanya ilusi yang timbul dari kegelisahanku. Aku berjalan santai menuju asal suara. Semakin dekat dan semakin dekat.
‘ wa allahua’lam” aku terkejut. Sebuah cahaya kebiruna bersinar di depanku. Kecil namun tampak indah, bau harum semerbak memenuhi sekitra. Ku menarik nafas berkali-kali, pikiranku semakin tenang. Suara burung yang berterbanganpun semakin dekat. Ah ternyat sepasang merpati. Dan salah satu merpati itu membawa selembar kertas, apa mungkin itu surat cinta untuk merpati betina, pikirku.
Aku terus berjalan kedepan menuju titik cahaya. Semakin dekat cahaya itu selalu berubah, kadang biru, hijau dan kali ini semua berubah putih total. Pandnaganku terpokus pada sebuah pintu yang terbuat dari emas, tampak indah dan mempesona. Sepasang burung itu berhenti di depan pintu. Seperti menyuruh aku untuk segera membukanya.
Aku mengira burung itu akan terbang menjauh saat aku mengahmpirinya, ternyata aku salah. Dan tampaknya dengan sengaja burung itu menjatuhkan selembaran yang sembari tadi di bawanya. Aku sedikit heran melihat kejadian yang tidak wajar itu. Hatiku di liputi rasa penasaran.
Ku buka pintu perlahan. Gelap, lalu semua berubah gelap dan suara burung yang berterbangan lenyap seketika. Suasana sunyi kembali bergeming. Aku terdiam. Hanya selembaran kertas yang tadi di jatukan merpati itu yang tersisa. Aku tak lagi merasakan kehidupan. Tubuhku dingin, aku menggigil.
“ Srek.” Dalam kegelapan akumerasakan seseorang mendekapku dengan selimut yang barusan di tempelkanya di tubuhku.dingin yang mencekam perlahan hilang. Aku tersenyum lirih, tapi sayang pasti orang yang barusan memberikanku selimut tak melihat senyum ucapan terima kasihku.” Terima kasih” ujarku. Aku menuggu jawaban, tapi sepi, kosong. Tak ada jawaban. Aku meraba-raba mencari di mana orang itu berada.dan seketika suara burung merpati kembali terdengar , suaranya terdengar jauh, aku menoleh kebelakang, di mana suara itu terdengar.
Seorang perempuan menatapku tajam, sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya. Indah sekali. Pakaian serba putih yang di kenakanya mebuatnya angun.bau harum kembali menyelimuti sekitar. Aku berjalan santai menuju permepuan itu,langkahku sedikit terhenti karena nafasku yang tiba-tiba terasa sesak. Tapi sayang bayang itu semakin menjauh, aku mencaba memandang wajah teduh yang bercahaya itu. Indah . apakah dia bidadari,aku kembali menfokuskan pandangan.” Deg”. Sesak kembali menyergap . aku terdiam ,sepasang bola mata indah itu tidak lagi asing di benakku. Aku terpaku.”Ya allah . ibu. Ibu..” aku berteriak memanggil ibuku. Wajahnya jauh berbeda sebelum lima tahun lalu ibu meninggalkanku. Kerut di wajahnya tidak tampak, dan kulit coklat tua yang ku rindu berganti dengan kulit putih dan mempesona.hingga aku hampir tak mengenali ibuku  sendiri.” Ibu” aku terus memanggil. Tapi ibu hanya tersenyum, mengiringi sesak yang menyeruak di hatiku. Aku  melangkah tergopoh-gopoh. Suasana gelap kembali datang. Sosok  ibu telah hilang. Mungkin alam dan waktu telah memisahkan.
 Dan..
“ Kang subuh.” Sebuah suara membangunkan yang masih tertidur di atas sajadah . ternyat a semua hanya mimpi. tasbih masih terpaut erat di tangan kananku. Sebuah kertas lusuh berada tepat di depanku. Aku terdiam, kertas yang sama seperti dalam mimpiku. Ku ambil perlahan, lalu ku baca tulisan yang terukir di kertas itu.
“ Assyahadualla ila haillallah. Wa assyahadu anna muhammadarasulullah.” Aku terpaku diam. Rinduku telah terobati, semua soal telah terjawab.
“ Ya allah terima kasih.”
Inbu samary.neng gotaan. F.05. 20/12/10. terima kasih ibu, telah kau ajarkan aku mengenali dunia ini.semoga ibu selalu dalam lindungan-NYA.
Reaksi:

0 komentar: