Rabu, Februari 15, 2012

Bencana Alam : Ulah Tangan Manusia atau Takdir Tuhan.


Sekilas sebagai muqadimah (pembuka) untuk memulai topik tentang bencana alam ada baiknya kita memperbanyak bersyukur karena sampai detik ini kita masih di beri kesempatan untuk menghirup segarnya udara menikmati sinar matahari pagi dan berdoalah semoga kita terhindar dari bencana yang identik dengan rasa sakit, luka dan kerusakan.
Bencana alam, sebuah fenomena yang tentunya tidak asing lagi di telinga khususnya kita sebagai warga Negara Indonesia. Berbagai bencana melanda di setiap sudut kota,mulai dari banjir , tanah longsor, gunung berapi, tsunami dan masih banyak lagi, dan yang lebih parah lagi Jakarta, ibu kota Negara Indonesia sendiri juga tak lepas dari musibah bencana alam. Dan baru-baru ini sembulan abu panas dari gunung merapi aktif sudah menjadi topik hangat di masyarakat. Lalu siapakah dalang di balik semua bencana alam yang sudah menjadi adat (kebiasaan) dalam kehidupan sekarang ini ? apakah semua yang terjadi ini sudah secara haq bil mutlaq kehendak dari sang khaliq ataukah justru sebuah azab (siksa) yang sedang kita terima atas kesalahan kita.
Banyak yang mengira bencana memang sudah dari kehendak yang di atas sehingga dengan santai para manusia tetap melakukan apapun yang mereka anggap benar padahal tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan adalah sebuah pelanggaran yang menyebabkan sistem alam berubah, dan hal itulah penyebab sang kahliq tidak segan-segan menurunkan bencana kepada kita agar kita sadar akan kesalahan kita, sadar dengan perbuatan kita yang telah mengganggu sistem keseimbangan yang telah di ciptakan sesempurna mungkin.
Tapi pada kenyataannya, bencana yang sering melanda hanya di anggap sebuah takdir belaka. Itulah salah satu bukti betapa kita memang layak untuk menerima bencana secara bertubi-tubi silih berganti. Dan bukankah lebih layak, jika bencana alam yang sering terjadi sekarang secara lazim di sebut azab atas kesalahan kita, kesalahan yang di mana kita telah lupa tugas utama kita di ciptakan. Bukankah manusia di ciptakan untuk menajdi seorang khalifah (pemimpin).
manusia di ciptakan untuk menjadi seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi ini,dengan artian manusialah yang wajib secara mutlaq untuk menjaga dan melindungi alam ini agar tetap terjaga keseimbangannya. Sehingga antara alam dan ingkungan tetap terjadi keharmonisan.
Tugas manusia sebagai kahlifah tercantum jelas dalam kalamullah al-quran al- karim “ ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat “ sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” mereka berkata : “ mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau ”tuhan berfirman ‘ sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Al-baqarah ayat 30)
Tapi sangat di sayangkan, hanya segelintir saja manusia yang sadar akan tugas penciptaan mereka. Sebagian besar dari manusia justru menjadi perusak alam yang seharusnya mereka jaga dan lindungi. Contoh kecil misalnya : penebangan liar yang mulai merajalela. Bukankah penebangan liar yang sering di artikan penebangan tanpa adanya izin dari pemerintah setempat itu akan menyebabkan hutan gundul, akibatnya ketika hujan turun dan meresap ke dalam pori-pori bumi , air mengalir bebas tanpa terkendali karena sistem penyerapan air pada tanah menurun drastis dengan kurangnya atau bahkan habisnya komponen utama yang sangat penting dalam proses respirasi yaitu akar. Al hasil air yang terus bertambah dan sama sekali tidak terjadi pengurangan volume maka dengan mudah akan meluap dan banjir tidak bisa lagi terelakkan. bukankah hal itu sangat merugikan bagi manusia itu sendiri dan mahluk lain yang tidak bersalah.
Selain dari contoh di atas banyak sekali contoh lain yang mungkin bisa menjadi alasan utama kalau manusia itu layak di katakan sebagai faktor utama penyebab rusaknya sistem alam. Contoh lain, sistem ladang berpindah yang mengakibatkan intensitas hutan menurun dari tahun ke tahun, pembuangan limbah pabrik di laut mengakibatkan polusi air dan musnahkan mahluk hidup di laut maupun sekitarnya, pembuangan sampah di area sungai. Bukankah contoh-contoh dari pelanggaran di samping sudah menjadi adat bagi masyarakat sehingga dengan santai mereka merasa seolah terbebas dari kekungan rasa bersalah. Jadi pantas saja jika sang kaliq menurunkan bencana atau lebih tepatnya azab dengan tujuan memberi peringatan kepada manusia yang lupa akan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai khalifah agar segera sadar dan segera kembali merawat alam agar keseimbangan yang sempat terganggu kembali normal.
Allah berfirman “ telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kambali (ke jalan yang benar)“ {Ar-Rum Ayat 41}.
Dari friman Allah di atas, sudah jelas bukan bahwasanya kerusakan yang terjadi di darat dan di laut adalah karena ulah tangan manusia iu sendiri. Ulah tangan dari para manusia yang telah di penuhi keserakahan dan nafsu sehingga dengan seenaknya mereka melakukan hal-hal yang membuat merusak sistem keseimbangan alam.
Sebagai taukid (penguat) nabi bersabda "Takutilah dosa, karena dosa itu akan menghancurkan kebaikan. Ada dosa yang menyebabkan rezeki tertahan, walaupun sudah dipersiapkan kepadanya". Dari hadist tersebut, sudah jelas bukan, semua kerusakan yang ada di muka bumi adalah akibat dari dosa, dosa yang terkadang tidak tersadari atau justru pura-pura lupa dan di saat kerusakan (bencana) itu datang barulah kita menyadarinya .
dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW bersabda "Manusia tidak akan binasa sebelum mereka banyak melakukan dosa". Maksiat menyebabkan longsor dan gempa bumi serta hilangnya keberkahan. Suatu kali Rasulullah SAW melewati wilayah bekas perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang para sahabat untuk memasukinya kecuali dalam kondisi menangis serta melarang mereka meminum airnya atau mengambil air dari sumurnya. Karena dampak sial dari maksiat terdapat dalam air. Demikian pula dampak sial maksiat pada kerusakan buah-buahan.
Dampak lain dari maksiat adalah kesialan dosa yang juga menimpa orang lain dan kendaraannya. Pelaku maksiat dan orang lain terkena sial dan efek dari dosa, sehingga banyak sekali pihak yang di rugikan dari kerusakan yang sudah merajalela sekarang ini.

Allah SWT berfirman, "Maka setiap-tiap (orang, golongan, kaum atau bangsa) Kami siksa karena dosanya.Ada di antaranya yang Kami tumpahkan hujan lebat (sampai banjir besar atau berjangkitnya penyakit), ada yang dihukum dengan suara guntur dan kilat sabung-menyabung ; ada lagi yang Kami benamkan ke dalam perut bumi; dan ada pula yang Kami tenggelamkan di tengah lautan. Semuanya itu bukanlah karena Tuhan menganiaya mereka, melainkan mereka menganianya diri sendiri" (Al Ankabut 40). Pada waktu akhir-akhir ini beruntun - runtun terjadinya bencana yang menimpa manusia. Baik di tanah air kita maupun di berbagai benua di seluruh dunia, tidak lain karena kesalahan manusia itu sendiri, semua yang terjadi adalah hasil dari keserakahan dan keegoisan manusia itu sendiri. “.
Dengan mata terbuka.kalau kita meninju dari firman allah dan hadist di atas sudah tidak di ragukan lagi semua bencana yang terjadi baik di laut atau di daratan adalah kesalahan manusia itu sendiri dan secara otomatis akan berimbas pada manusia itu sendiri dan juga anak cucu (generasi penerus) kelak.
Lalu bagaimanakah agar sistem keseimbanagn ini kembali normal sehingga bencana tidak lagi menjadi topik hangat dalam kehidupan sehari-sehari bahkan kalau bisa bencana hanya menjadi sebuah catatan kecil dari lembaran bab-bab buku sejarah ? apa setelah kita membahas tentang bencana kita tetap akan membunag limbah di laut, melakukan penebangan liar, membuang sampah di sembarang tempat dan juga pelanggaran-pelanggaran lainya. Tentu tidak.semua kita kembalikan pada diri pribadi bagaimana dan apa yang seharusnya kita lakukan uuntuk menghadapi fenomena bencana yang sering melanda sekarang ini.
Ada baiknya mulai sekarang kita mulai melakukan pendekatan kepada alam melakukan perbaikan semua yang telah kita rusak dan musnahkan dari alam, sehingga jarak yang sempat terpaut jauh antara manusia dan alam kembali mendekat. Keharmonisan antara manusia dan alam kembali seperti semula. Semua seimbang tanpa adanya yang sakit dan yang tersakiti. (semoga bermanfaat)



Oleh : Muhammad Ardi Ansha Pendidikan Matematika tahun 2010.
di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Karya Ilmiah.
Dosen pembimbing : Drs. Ahmad Jamjuri Suherman.

Reaksi:

0 komentar: